— Shared 4 days ago - 64,234 notes - via / Source - reblog
 Last messages from Survivors and Students trapped inside the ferry
... PRAY FOR SOUTH KOREA


— Shared 1 week ago - 1 note - via / Source - reblog

sparklingthings:

Untuk Perempuan Yang Sedang Dalam Pelukan - Payung Teduh 

Currently in love with this song <3

<3 <3


— Shared 1 week ago - 555 notes - via / Source - reblog

The types of people you will love.

merelyamadness:

i. You will love some people
because of how they look.
You will laugh
and swear it’s not true
but there will be someone
you love completely
because of the way his skin
covers his bones
or the way her eyes
reflect the light.

ii. You will love some people
because they kissed you on a day
you were feeling lonely.
Try not to spend too much time here.
It will not be worth it.

iii. You will love some people
because they are smarter than you
and all your life
you’ve wanted someone
to answer the hard questions. 

iv. You will love some people
for a moment
and never again.

v. You will love some people
because they are broken
and tearing down construction tape
makes you feel like a hero.
Not everyone can be saved
and not everyone who can 
wants to be.
Try not to cut your fingers
on any shards of glass. 

vi. You will love some people
because they prove your mother wrong
and others
because they prove her right.

vii. If you are lucky
you will love someone
whose heartbeat
fills the breaks in yours
and you will stop looking
for a reason why.

if you are lucky…..


— Shared 2 weeks ago - reblog

Repost: Serangan Fadjar!

Oke, kurang dari 12 jam menuju Pileg; kami belum menentukan pilihan. Karena empat surat suara yang harus dicoblos (DPD wakil Jabar, DPR RI dapil Jabar XI, DPRD Jabar dapil 12, dan DPRD Garut) terlalu banyak nama; yang kami tidak tahu mereka siapa.


Thanks God! ada internet buat kepoin para caleg.


Catatan: kami bukan buzzer, tim kampanye, tetangga atau mantan pacar caleg, dan bukan anggota partai manapun. Tidak kenal, apalagi dibayar untuk mengkampanyekan mereka. Catatan ini untuk berbagi tips bagaimana menjadi pemilih rasional berdasarkan pilihan dan data yang ada. Kamu boleh setuju atau tidak, boleh suudzon (dosana keur maneh oge sih) boleh husnudzon pada catatan ini.



Part 1: “memilih caleg DPD secara rasional


Terdapat 36 caleg DPD wakil Jabar. Lihat disini > www.bit.ly/CalonDPD


4 dari 36 akan melaju ke Senayan, mewakili warga Jabar.


Sebagai pemilih rasional, kami menentukan kriteria dasar. Pertama, usia caleg harus dibawah 60 tahun. Tua adalah pensiun, mengutip Pak Habibie “pemilu tahun ini adalah untuk generasi 40-60 tahun”; jika ada yang lebih muda dari 40, kami oke-oke saja. Kedua, kami tidak memilih INCUMBENT. Incumbent adalah pejabat-pejabat legislatif periode sebelumnya. Kami merasa incumbent tidak berguna dan tidak terasa dampaknya. Jika incumbent ada yang bagus, harusnya kita kenal dong; masa udah kerja 5 tahun tapi tetep ga dikenal rakyat? Ketiga, sejak kami mahasiswa dan sarjana; kami meninggikan standar untuk memilih caleg dengan level pendidikan minimal S1.


Nah dari 36, beberapa caleg DPD tereliminasi dengan tiga kriteria dasar tersebut hingga sisa 19. Wow ini kaya milih finalis Indonesian Idol.


Masih terlalu banyak pilihan, kami eliminasi caleg S1 dengan latar belakang bisnis. Ini suudzon sih, “gimana kalo nanti kepilih, travelnya pake perusahaan dia semua? cateringnya pake bisnis dia semua?”. Lalu kami juga eliminasi caleg dari LSM sayap pemerintah Orde Baru. Eliminasi kedua lebih subjektif, pilihan kamu bisa jadi beda.


Dari 19, sisa 9. Lalu disinilah fungsi google. Kami googling nama kesembilannya; dan menemukan gosip artis, blog pribadi yang tidak jelas, dan nama yang (masya Allah) tidak ada di google.


Terpilihlah lima besar, caleg DPD wakil Jabar pilihan kami.



1)  Suharna Surapranata, 56 tahun. S2 Teknik ITB 1995. Menteri Negara Riset dan Teknologi RI 2009-2011


2)  Deni Jasmara, 42 tahun. UNPAS Bandung. Direktur WALHI Jabar 


3)  Eni Sumarni, 51 tahun. S2 Kesehatan Lingkungan UNAIR Surabaya 1996. Direktur Utama PT Wahana Dua Putera Mandiri


4)  Gunawan Undang, 49 tahun. S3 UNPAD 2006. Staf Ahli DPD RI


5)  Eman Suryaman, 50 tahun. S3 Filsafat UGM Yogyakarta 2007




Part 2: “memilih caleg DPRD Garut secara rasional


Memilih caleg DPRD Garut adalah yang utama. Karena mereka bersinggungan langsung dengan legislasi, anggaran, perencanaan, dan pengawasan pembangunan lokal. Pak Rudi & Pak Helmi perlu diimbangi dengan anggota DPRD yang berkualitas; agar eksekutif dan legislatif lokal bisa jadi dynamic duo.


Pertanyaan pertama: termasuk dapil (daerah pemilihan) manakah dirimu?


a) Dapil 1; Garut Kota, Karang Pawitan, Wanaraja, Pangatikan, Cilawu, Sucinaraja, Sukawening, Karang Tengah


b) Dapil 2; Bayongbong, Cigedug, Cisurupan, Sukaresmi, Cikajang, Banjarwangi, Singajaya, Cihurip, Peundeuy


c) Dapil 3; Pameungpeuk, Cisompet, Cibalong, Cikelet, Bungbulang, Mekarmukti, Pakenjeng, Pamulihan, Cisewu, Caringin, Talegong


d) Dapil 4; Leles, Kadungora, Leuwigoong, Cibatu, Kersamanah, Malangbong, Limbangan, Selaawi, Cibiuk


e) Dapil 5; Tarogong Kaler, Tarogong Kidul, Banyuresmi, Samarang, Pasirwangi


Jika sudah terjawab, download data caleg DPRD Garut disini > www.bit.ly/CalegDPRDGarut


Terdapat banyak kolom dalam daftar caleg yang tersedia; dalam satu dapil ada sekitar 120 caleg; 9-11 caleg dengan perolehan terbesar dari tiap dapil akan mengisi 50 kursi di Patriot. Tahap satu; filter nama caleg sesuai dapil kamu.


Lalu, kamu bisa eliminasi seperti cara yang kami lakukan.


Dapil 1, pilihan Tia dari Sukawening.


Dari 120 caleg dapil 1, Tia memfilter caleg usia dibawah 60 tahun; pendidikan minimal S1; dan bukan incumbent DPRD, bukan wiraswasta, bukan Ibu Rumah Tangga, dan bukan PNS aktif. Alasannya, 60 tahun adalah batas pensiun, lulusan S1 dianggap lebih capable dari lulusan SMA. Incumbent dianggap tidak ada yang berhasil; wiraswasta/pebisnis ditakutkan akan menguasai tender proyek pemerintah; tidak memilih Ibu Rumah Tangga karena alasan pribadi; dan PNS aktif bukannya ga bisa nyaleg ya? Jikapun pensiunan PNS, sungguh kerja birokrasi tidak sama dengan legislatif loh bapak ibu. Tia, menyeleksi dapil 1 dengan rasional.


Setelah memfilter, iniliah 11 caleg hasil pilihannya:



1) Golkar 4, Anne Nurjanah.


2) PKB 8, Ahmad Hambali.


3) PAN 8, Iman Solahudin.


4) PBB 5, Anang Saripudin.


5) PPP 4, Zacky Siradj.


6) Nasdem 3, Yusep Mulyana.


7) Nasdem 5, Maryono Dikoen.


8) PPP 3, Lina Gempar.


9) Hanura 9, Yayah Siti Rokayah.


10) Nasdem 4, Hafni Banjar.


11) Hanura 8, Siti Yuliawati.


Tia, mengutamakan caleg dengan pendidikan S3 (Anne) dan S2 (Ahmad, Iman, Anang, Zacky). Kemudian memasukkan kembali caleg pengusaha, asalkan S2 (Yusep, Maryono). Empat nama terakhir adalah caleg perempuan S1 berlatar belakang pendidikan hukum, sosial, dan bisnis (Lina, Yayah, Hafni, Siti).


Dapil 2, pilihan Rizqan dari Bayongbong.


Seperti Tia, Rizqan mengeliminasi caleg dapil 2 berdasarkan usia dibawah 60 tahun; pendidikan minimal S1; dan bukan incumbent, bukan ibu rumah tangga.


Setelah memfilter, inilah caleg hasil pilihannya:



1) PDIP 10, Bubun Sihabudin.


2) PPP 7, Muslim Hadi Ma’mun


3) PD 1, Dewiyani Agustina.


4) Gerindra 8, Syarifudin.


5) PDIP 3, Nina Fitriana.


6) PDIP 7, Erni Herawati.


7) PKS 2, Dian Roslan Hidayat.


8) Gerindra 7, Asep Cica.


9) PDIP 4, Agus Muklar.


Rizqan mengutamakan caleg dengan pendidikan S2 (Bubun, Muslim, Dewiyani, Syarifudin). Lalu memilih caleg perempuan dari PDIP (Nina, Erni) karena setuju dengan tesis “oposisi hari ini adalah pemerintahan selanjutnya”. PDIP dianggap partai yang cukup konsisten menjadi oposisi dalam sepuluh tahun terakhir, selain Gerindra dan Hanura. Tiga pilihan terakhir karena lulusan S1 yang jelas universitasnya, bekerja sebagai dosen, dan berdomisili di Bayongbong (Dian, Asep, Agus).


Dapil 5, pilihan Fajrin dari Tarogong Kidul dan Prisia dari Tarogong Kaler.


Fajrin dan Prisia juga memfilter caleg dapil 5 berdasar usia dibawah 60 tahun, pendidikan minimal S1 dan bukan incumbent, bukan ibu rumah tangga, bukan Kepala Desa, bukan PNS.


Setelah memfilter, inilah caleg hasil pilihan mereka:



1) PD 4, Agus Miftah Faridz


2) Golkar 7, Edih Kahdar


3) Gerindra 8, Susilowati


4) PD 1, Endang Kahfi


5) PKS 2, Asep Ichsanurdin


6) PKS 3, Yusni Ainurochman


7) PKS 7, Hasan Basri


8) Hanura 6, Lala Melati


9) PBB 1, Dani Ruswanda


Fajrin dan Prisia juga mengutamakan caleg dengan pendidikan S2 berlatar akademisi (Agus) dan lulusan S2 lainnya (Edih, Susilowati, Endang). Kemudian Fajrin memiliki preferensi untuk memilih caleg dari partai Islam seperti PKS, PKB, PPP, dan PBB yang lulusan S1 (Asep, Yusni, Hasan). Adapun Prisia memilih caleg perempuan dari partai oposisi yang lulusan S1 dan tinggal di Tarogong Kaler (Lala, Dani).



Dapil 3 dan Dapil 4 difilter oleh Rizqan dan Fajrin (karena ketika kami diskusi, tidak ada anak penpol yang berasal dari dapil tersebut)


Kriterianya serupa; berusia dibawah 60 tahun, pendidikan minimal S1, dan bukan incumbent, bukan ibu rumah tangga, bukan PNS. Rizqan berpreferensi pada caleg partai oposisi yang sekuler, sedangkan Fajrin berpreferensi pada caleg partai Islam. Setelah memfilter, inilah caleg hasil pilihan mereka:


Dapil 3;



1) PBB 5, Umar Taslim


2) PKB 3, Kokom


3) Gerindra 5, Risan Sigiayasin


4) Gerindra 9, Aca Sutisna


5) PDIP 3, Ani Adida Yulianti


6) PKS 8, Asep Nuriman


7) PKB 7, Aceng Wahyu


8) PBB 2, Iwan Sutiawan


9) Gerindra 3, Hidayat


10) Gerindra 6, Tatang Sumirat


Di dapil 4, kami memprioritaskan caleg berpendidikan S2 (Umar, Kokom, Risan, Aca), berprofesi sebagai petani dan penyuluh pertanian (Ani, Asep), dan memilih caleg partai Islam dan partai oposisi yang berdomisili di dapil tersebut (Aceng, Iwan, Hidayat, Tatang).


Dapil 4;



1) PKS 1, Kartono


2) Gerindra 3, Piping Dipraja


3) PKB 2, Rd Mochamad Romli


4) PD 3, Dida Garnida


5) PKPI 2, Sesep Kohar


6) PD 7, Uceng Mahfudin


7) PKS 9, Ani Indrianisari


8) PKS 6, Raden Teti


9) PDIP 12, Dadan Ramdani


10) PBB 1, Asep Setiawan


Di dapil 5, kami juga memprioritaskan caleg berpendidikan S2 (Kartono, Piping, Rd. Mochamad, Dida, Sesep), lalu caleg perempuan S1 (Ani, Raden Teti); caleg partai oposisi (Dadan); dan caleg partai Islam (Asep) yang berdomisili di dapil tersebut.




Serangan Fadjar untuk memilih secara rasional tidak kami lanjutkan ke tahap “memilih caleg DPR RI Jabar XI secara rasional” dan “memilih caleg DPRD Jabar 12 secara rasional” karena kaburu rieut dan data tidak tersedia dalam bentuk excel yang mudah difilter. Praktis kami membuka www.dct.kpu.go.id | www.bersih2014.net |www.ayovote.com/kepoin-caleg/ | atau download aplikasi “Caleg Store” di google app store untuk yang pake android.




Menjadi pemilih rasional ribet juga sih, daripada menjadi pemilih yang gampang disuap 10-20 ribu. But sorry, our vote is not for sale. This year election will be different and better, because we are rational voters. Ada beberapa yang lebih penting dari tingkat pendidikan dan usia; yaitu prestasi, karya dan track record (pengalaman kepemimpinan). Sayangnya tidak banyak data yang tersedia, meski sudah bolak balik tiga kali ke KPUD. Yah, at least we try our best to be rational.


Yang penting; besok #HayuMilih coblos!


Barulah nanti ketika mereka kepilih, kami bakal lebih rebek ngepoin kerja mereka lima tahun kedepan. Nah, untuk berpartisipasi sebagai warga Negara yang baik: mari mulai dengan memilih caleg.

Semangat jadi pemilih rasional! 

Source: Pendidikan Politik Muda Garut https://www.facebook.com/notes/pendidikan-politik-muda/serangan-fadjar/234978930027071 (diakses pada 9 April 2014, pukul 10.31 WIB)


— Shared 1 month ago - 182,515 notes - via / Source - reblog
:D

:D


— Shared 1 month ago - 543,291 notes - via / Source - reblog

Important things I’ve learned in the last 6 months.

undef-eat-able:

  • Always say yes to seeing friends
  • Eat breakfast every day
  • Recognize that positive change rarely happens overnight
  • Accept the fuck-ups, but try not to let them happen again
  • There is a song to remedy every situation on the planet
  • Appreciate the people in your life
  • Look for the good in everything
  • Try new things and try them often
  • Treat yourself as well as you treat others

— Shared 2 months ago - 9 notes - via / Source - reblog
Apa yang didapat oleh seorang Idealis? Eksistensi dan Kepuasan Diri. Apa yang didapat oleh seorang Realis? Kenyataan yang absurd. Apa yang didapat oleh seorang Melankolis? Hati yang Luka.

Putra Fajar

(via putrafajar)

Apa yang didapat oleh seorang idealis? kenyataan yang absurd. Ketika dia tak kenal lelah berjuang mengatasi itu, didapatlah eksistensi dan kepuasan diri.

Apa yang didapat oleh seorang realis? kenyataan yang pahit. Ketika dia memegang nilai-nilai kebaikan dan tau keterbatasan diri sendiri, didapatlah kesederhanaan dan kedamaian diri.

Apa yang didapat oleh seorang melankolis? Hati yang luka. Ketika dia bertahan dan bersabar, didapatlah cinta murni yang tak habis oleh waktu, saling mendoakan, saling memperbaiki.

Mari kenali diri. Tak usahlah menghakimi.
Kita semua berjalan di jalan yang berbeda, sehingga memiliki pemahaman dan pengalaman tersendiri.

Yang saya percaya, selalu ada kebaikan bagi penebar kebaikan.

Fajrin Yusuf M

(via yremembrance)


— Shared 2 months ago - 1 note - reblog

Islam Moderat dalam Politik Posmodern

Indonesia Islamic Fashion Week Sebagai Representasi Islam Moderat dalam Politik Posmodern

The real issues is not between Muslims an non-Muslims but between the moderates and extremists of all religions, be it Islam Christianity or Judaism. Across all religions we have inadvertently allowed the ugly voices of the periphery to drown out the many voices of reason and common sense (Najib Tun Razak)

Setelah tragedi 9/11 pada tahun 2001 lalu, Islam menjadi sorotan di berbagai media massa dunia. Osama bin Laden, seorang muslim berkebangsaan Afghanistan diduga menjadi otak dari tragedi yang menewaskan ribuan warga negara Amerika Serikat. Selama bertahun-tahun dalam pengejaran, sosok Osama bin Laden menjadi sorotan media massa Amerika Serikat dan dunia. Media massa, terutama media massa Barat secara tidak langsung melakukan sebuah asosiasi antara umat islam dengan tindakan terorisme. Dengan statusnya sebagai seorang muslim beserta atribut khasnya seperti janggut, surban serta nama Arab, hal ini menimbulkan efek domino terhadap identitas umat islam di seluruh dunia.      

Namun generalisasi mengenai identitas umat islam di dunia ini lebih sering didominasi oleh perspektif media Barat yang bersifat berat sebelah. Kebanyakan media Barat melakukan analisis terhadap gambaran umat Islam beserta ajarannya dari konteks budaya Barat. Salah satunya adalah mengenai penggunaan hijab atau kerudung oleh perempuan muslim yang dijadikan media Barat sebagai representasi opresi Islam terhadap kebebasan perempuan muslim dalam mengekspresikan diri.

The image of a veiled Muslim woman seems to be one of the

most popular Western ways of representing the ‘problems of Islam’. As already mentioned, a commonplace observation within Western discourse on the veil has been that it is an overt sign of Islam’s oppression of women.[1]

Cara berpakaian perempuan muslim dijadikan sebuah representasi dari Islam yang diidentikkan dengan ketertutupan terhadap dunia luar. Penggunaan hijab yang tertutup dan hanya menampakkan sebagian kecil anggota tubuh diasosiasikan sebagai sikap politik umat Islam yang cenderung mengekslusifkan diri.

Setelah tragedi 9/11, Indonesia Islamic Fashion Fair (IIFF) 2013 yang dibuka pada 30 Mei 2013 lalu menjadi momentum baru dalam umat Islam dunia dalam menunjukkan identitas politiknya dalam era postmodern. IIFF menjadi sorotan berbagai media Barat terkait Muslim Fashion yang tidak lagi konservatif, namun lebih berwarna dengan potongan-potongan yang lebih dinamis. Instead, everyone on the runway at the Islamic Fashion Fair show is covered from head to toe in loose-flowing fabrics with variety of textures and colors[2].

Peragaan busana muslim tersebut menjadi semacam media untuk menyebarkan pesan terkait pergerakan umat Muslim yang moderat. Ketika perempuan muslim menggunakan hijab dan menutup tubuhnya, hal tersebut adalah sebuah pilihan pribadi dan sebuah aktualisasi diri. Dalam pandangan postmodern, IIFF menjadi semacam reaksi perlawanan terhadap definisi feminisme dari Barat yang seringkali menyudutkan penggunaan hijab sebagai bukti inferioritas perempuan dalam Islam. Semua perancang busana bebas berkreasi dengan warna dan potongan tanpa keluar dari jalur syariah agama. I try to make clothes that not only serve function of covering the body, but that has a sense of art in them[3]. Busana-busana tersebut dijadikan tempat desainer perempuan untuk mengekspresikan diri. Bahkan sebagian besar busana mereka telah diekspor ke negara-negara seperti Singapura, Australia dan negara-negara di kawasan Timur Tengah.

Peragaan busana ini seolah ingin menunjukkan sebuah identitas Islam yang baru. The clothes are peaceful, stylish; an image that is not scary. There’s no boundaries between the one who wears the clothes and the other people[4]. Gambaran Islam sebelumnya selalu diidentikkan dengan terorisme yang menakutkan, sebagai hasil konstruksi media Barat, terutama Amerika Serikat dalam War on Terrorism. Busana yang ditampilkan pada IIFF tidak hanya bisa digunakan oleh perempuan Muslim, namun juga non-muslim. Hal ini menunjukkan sisi diversitas dari Islam yang tidak lagi mengeksklusifkan diri namun moderat.

Bila kita lihat dari konteks politik dunia, IIFF berupaya menyampaikan pemahaman baru mengenai Islam. Era Postmodern dengan perkembangan teknologi informasi memberikan kesempatan dalam mengkonfigurasi kembali identitas sosial, politik dan budaya melalui media yang dapat menjangkau hingga individu. Hijab yang digunakan perempuan muslim yang ditampilkan dalam IIFF memberikan sebuah identitas politik baru bagi umat Islam di dunia. Penggunaan hijab dijadikan sebagai representasi dari upaya untuk mempertahankan nilai-nilai moral non-Barat yang terdapat dalam agama Islam. Hal ini juga menjadi perlawanan terhadap hegemoni konstruksi feminisme Barat yang terlebih dahulu mendominasi ilmu pengetahuan ataupun media massa.



[1] Anita M. Weiss, “Challenges for Muslim Women in Postmodern World,” dalam  Islam, Globalization and Postmodernity, Akbar S. Ahmed dan Hastings Donnan (New York: Routledge 2005) 129

[2] Dita Alangkara, “Muslim Fashion On Display In Indonesia As Models Show Islamic Style”, Huffington Post. (http://www.huffpost.com/us/entry/3382872) diakses pada 29 Oktober 2013

[3] Prodita Sabarini, “Making Indonesia the Mecca of Muslim Fashion”, Jakarta Post (http://www.jakartapost.com/news/2010/26/08/making-indonesia-the-mecca-of-muslim-fashion) diakses pada 29 Oktober 2013

[4] Prodita Sabarini, “Making Indonesia the Mecca of Muslim Fashion”, Jakarta Post (http://www.jakartapost.com/news/2010/26/08/making-indonesia-the-mecca-of-muslim-fashion) diakses pada 29 Oktober 2013


— Shared 2 months ago - 367,295 notes - via / Source - reblog

*speechless* fotonyaa astagah *U*


— Shared 2 months ago - 73,723 notes - via / Source - reblog

delano-laramie:

chharlieday:

this commercial for booking.com just came on and my entire family just stopped for a minute and stared at the television

i did the same thing

paraaah bodor X’D ini di Bali yaa